Sepuluh tahun bukan sekadar tentang rentang waktu. Ia adalah perjalanan yang menyimpan jejak, pertemuan, pembelajaran, tantangan, serta begitu banyak tangan yang pernah ikut menumbuhkan sebuah gerakan. Bagi Panca Olah Institute, satu dekade bukan hanya penanda usia, melainkan momentum untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan yang telah dilalui, dan kembali bertanya bagaimana perjalanan ini akan diteruskan.
Pertanyaan itulah yang mewarnai peringatan satu dekade Panca Olah Institute pada Minggu, 16 Agustus 2026. Mengusung tema “Menyadari Peran, Menghargai Kehidupan, Merayakan Kesyukuran”, momentum sepuluh tahun ini tidak dikemas semata sebagai seremoni ulang tahun.
Berbagai kegiatan dirangkai menjadi ruang perjumpaan antara manusia, budaya, dan alam. Setiap bagian menjadi kepingan yang saling terhubung dalam satu perjalanan panjang Panca Olah, yakni mengolah manusia agar semakin sadar akan dirinya, perannya, kehidupannya, serta hubungan dengan lingkungan tempat ia berpijak.
Perjalanan satu dekade diawali dengan Semaan Qur’an. Pembacaan Al-Qur’an menjadi bagian dari doa untuk kebaikan seluruh rangkaian kegiatan, sekaligus menjadi ungkapan harapan bagi perjalanan Panca Olah Institute di usia yang memasuki sepuluh tahun.
Doa kemudian berlanjut melalui Sambung Rasa – Rawi Mawlid, sebuah ruang untuk bertawassul kepada Nabi Muhammad, para sahabat, dan para wali. Di dalamnya terdapat sebuah kesadaran bahwa perjalanan yang sedang dilakukan hari ini tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ada nilai, keteladanan, dan kebaikan yang telah diwariskan oleh orang-orang terdahulu.
Sambung rasa menjadi cara untuk mengingat kembali akar tersebut. Bahwa meneruskan sebuah kebaikan juga berarti menjaga hubungan dengan mereka yang telah lebih dahulu menapaki jalan kehidupan, mengambil hikmah dari perjalanan mereka, dan berusaha melanjutkan nilai-nilai baik yang pernah ditanamkan. Dengan demikian, satu dekade tidak dimulai dari perayaan, tetapi dari kesadaran dan doa.
Suasana kemudian bergerak ke ruang yang lebih kreatif melalui Sharing Canting – Membatik Bersama. Dipandu oleh Aryani Dwi Agustina Sitio (Bu Tina) dari Artisi Batik Indonesia, peserta dari khalayak umum diperkenalkan pada proses membatik. Mereka belajar memegang canting, menggoreskan malam pada kain dengan beragam motif, hingga memberikan warna pada pola yang telah dibuat.
Sekilas, aktivitas ini tampak sederhana. Namun, membatik membutuhkan ketekunan, ketelitian, kesabaran, dan keberanian untuk membuat sebuah goresan pertama. Satu goresan yang telah dibuat tidak dapat begitu saja dihapus. Ia menjadi bagian dari keseluruhan karya.
Di situlah membatik menjadi lebih dari sekadar aktivitas budaya. Ia menjadi pengingat bahwa kehidupan pun demikian. Setiap pengalaman meninggalkan jejak. Tidak seluruhnya dapat diulang atau dihapus, tetapi dapat diolah menjadi bagian dari sebuah karya kehidupan yang lebih utuh.
Membatik juga menghadirkan kembali hubungan manusia dengan warisan budaya. Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, aktivitas ini mengajak untuk memperlambat langkah, memberi perhatian pada proses, dan menghargai keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Setelah mengolah rasa melalui budaya, peserta diajak memasuki ruang refleksi yang lebih aktual melalui Focus Group Discussion (FGD) “EMAS Activation” (Enlightenment, Mastery, Actualization, Synergy) yang dimoderatori oleh Arifah Handayani.
Di dalam ruang diskusi ini, peserta membawa keresahan dan berbagai concern yang mereka rasakan. Keresahan tidak berhenti menjadi keluhan, tetapi dibawa ke dalam proses bersama untuk dipahami dan dirumuskan menjadi kemungkinan strategi serta aksi ke depan.
Inilah salah satu bentuk penting dari kesadaran, yakni berani melihat apa yang sedang terjadi, mengakui persoalan yang ada, kemudian mencari jalan untuk bergerak. Enlightenment membuka ruang kesadaran. Mastery mendorong penguasaan diri dan kemampuan. Actualization membawa kesadaran tersebut menjadi tindakan. Sementara Synergy mengingatkan bahwa perubahan tidak selalu dapat dilakukan seorang diri.
Satu dekade, dengan demikian, bukan hanya tentang melihat apa yang telah dilakukan Panca Olah Institute, tetapi juga tentang membaca persoalan hari ini dan menyiapkan langkah untuk menjawabnya.
Kesadaran tersebut kemudian menemukan bentuk yang berbeda melalui pentas teater “Ibu Bumi, Bapa Angkasa.” Melalui seni pertunjukan, peserta diajak untuk kembali melihat hubungan manusia dengan alam. Bumi bukan sekadar tempat tinggal, dan alam bukan sekadar latar kehidupan manusia. Ada hubungan yang perlu disadari, dihargai, dan dirawat.
Pementasan ini menjadi ruang refleksi tentang bagaimana manusia memperlakukan lingkungan yang menopang kehidupannya. Ketika alam terus memberi, pertanyaan berikutnya adalah: apa yang telah manusia berikan kembali kepada alam?
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika Panca Olah Institute memasuki dekade berikutnya. Jika selama perjalanan sebelumnya perhatian banyak diarahkan pada pengolahan manusia, maka ke depan hubungan antara manusia dan alam mulai ditempatkan sebagai bagian yang semakin penting dari gerakan.
Perjalanan kemudian berlanjut melalui Kampung Kaulinan, sebuah ruang untuk mengenal kembali permainan tradisional, khususnya yang berasal dari budaya Sunda.
Permainan tradisional sering kali dianggap sebagai sesuatu yang sederhana dan dekat dengan masa kanak-kanak. Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan cara masyarakat terdahulu belajar tentang kehidupan: bekerja sama, mengikuti aturan, berstrategi, menerima kemenangan dan kekalahan, serta membangun relasi dengan orang lain.
Melalui Kampung Kaulinan, permainan tidak hanya dihidupkan kembali sebagai hiburan. Ia menjadi pintu untuk membaca kembali kebudayaan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Ada pengetahuan yang tidak selalu hadir dalam ruang kelas. Ada kebijaksanaan yang justru diwariskan melalui permainan, gerak tubuh, interaksi, dan pengalaman bersama.
Memasuki Symbolic Tradition Program & Cultural Activation Ceremony, suasana kembali mengarah pada perenungan. Abah Nurul Huda menyampaikan sebuah petuah yang menjadi salah satu pesan penting dalam momentum satu dekade ini: hal yang paling dapat membuat manusia celaka adalah ketika manusia tidak mengenal diri, tidak tahu diri, dan tidak terhubung dengan dirinya sendiri.
Pesan tersebut seolah mengembalikan seluruh rangkaian kegiatan kepada satu pertanyaan paling mendasar: siapa diri kita dan untuk apa kita hadir? Mengenali diri bukan sekadar mengetahui siapa kita secara identitas. Ia merupakan proses untuk memahami peran, menyadari batas, mengenali hubungan dengan sesama, serta menemukan kembali keterhubungan dengan kehidupan.
Setelah petuah tersebut, seremoni pemotongan tumpeng dilakukan oleh Abah Nurul Huda bersama Coach Jaya, Founder Panca Olah Institute, sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan sepuluh tahun.
Tumpeng menjadi lebih dari sekadar simbol perayaan. Ia menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan yang telah dilalui sekaligus ungkapan syukur atas orang-orang yang telah menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Suasana kemudian kembali dihidupkan melalui Nusantara Traditional Music dengan pertunjukan musik karinding. Karinding bukan hanya menghadirkan bunyi. Ia membawa serta kebudayaan dan sejarah masyarakat yang melahirkannya. Melalui pengenalan terhadap musik tradisional ini, peserta kembali diajak memahami bahwa kebudayaan memiliki bahasa dan cara sendiri dalam menyampaikan nilai kehidupan.
Musik menjadi pengingat bahwa manusia tidak hanya memahami kehidupan melalui kata-kata. Ada rasa yang hadir melalui bunyi, ritme, gerak, dan pengalaman bersama.
Di titik ini, kebudayaan menjadi bagian penting dalam perjalanan Panca Olah. Bukan hanya sebagai ornamen kegiatan, melainkan sebagai sumber pembelajaran tentang bagaimana manusia pernah hidup, berelasi, dan menjaga keseimbangan dengan lingkungannya.
Satu dekade tentu tidak pernah dibangun oleh satu orang. Karena itu, salah satu bagian penting dalam momentum ini adalah Doa dan Harapan dari Mitra Panca Olah. Para mitra, tim, dan pihak yang hadir diberikan ruang untuk menyampaikan doa serta harapan bagi perjalanan Panca Olah Institute di usia yang kesepuluh.
Suara-suara tersebut menjadi cermin bahwa perjalanan sebuah lembaga tidak hanya dapat dilihat dari program yang telah dilakukan, tetapi juga dari hubungan yang terbangun sepanjang perjalanan. Ada orang-orang yang datang sebagai peserta, kemudian menjadi mitra. Ada yang hadir dalam satu kegiatan, lalu ikut tumbuh bersama gerakan. Ada pula yang bekerja dari balik layar dan memastikan berbagai proses tetap berjalan.
Momentum satu dekade kemudian mencapai salah satu titik penting melalui Grand Launching Yayasan Nur Jati Alam Al Zaman.Pada kesempatan tersebut, Coach Jaya meresmikan berdirinya yayasan sebagai bagian dari arah gerakan ke depan. Ia menyampaikan bahwa perjalanan Panca Olah selanjutnya tidak hanya akan berfokus pada aspek manusianya, tetapi juga memberikan perhatian lebih besar kepada alam dan lingkungan sekitar.
Jika manusia adalah bagian dari alam, maka mengolah manusia tanpa memperhatikan alam akan membuat proses tersebut tidak utuh. Kesehatan, kesejahteraan, dan kesadaran manusia pada akhirnya tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan tempat manusia hidup.
Dari sinilah Eco-Psychology Activation Program diperkenalkan sebagai salah satu gerakan yang akan menjadi fokus Panca Olah Institute dalam menyongsong dekade berikutnya.
Sebuah langkah untuk memperluas cara pandang bahwa kesehatan manusia tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan dirinya sendiri, tetapi juga hubungan manusia dengan alam yang menopang kehidupannya.