Refleksi Hari Sumpah Pemuda: Ikhtiar Menjadi Manusia Polymath Hingga Urgensi Pemahaman Jati Diri Kenusantaraan

SELASA, 1 NOVEMBER, 2022

Refleksi Hari Sumpah Pemuda: Ikhtiar Menjadi Manusia Polymath Hingga Urgensi Pemahaman Jati Diri Kenusantaraan

PancaOlah.com- Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Panca Olah Institute mengadakan webinar bertajuk "Psikologi dan Pendidikan dalam Upaya Menjaga Kesehatan Mental Generasi Muda Indonesia" bersama Prof. Dr. Achmad Syahid, Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Dr. Muhammad Faisal, Founder Youth Laboratory Indonesia pada Senin, 31 Oktober 2022.

Di samping itu, program ini juga merupakan bagian dari rangkaian tindak lanjut kegiatan Sarasehan Selasa Kliwonan bersama belasan Organisasi Kepemudaan (OKP) di Kabupaten Sidoarjo yang telah digelar secara luring di Kantor Panca Olah Institute dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia pada tanggal 10 Oktober 2022 yang lalu.

Pamflet Webinar Hari Sumpah Pemuda

Mengawali kegiatan, para peserta diajak untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 Stanza gubahan dari Wage Rudolf Soepratman, seorang guru, wartawan, dan komponis yang turut berkontribusi dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dendang lagu kebangsaan ini pun pertama kali bergema pada malam penutupan Kongres Sumpah Pemuda yang diadakan pada tanggal 28 Oktober 1928 silam.

Sri Herlina, S.Psi. selaku CEO Panca Olah Institute dalam sambutannya mengatakan bahwa webinar peringatan Hari Sumpah Pemuda bukanlah perayaan untuk melakukan glorifikasi atas kedigdayaan dan kekuatan pemuda yang menjadi salah satu motor penggerak penting dalam usaha untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Lebih jauh, program ini diadakan Panca Olah Institute dengan tujuan untuk memberikan cara pandang atau perspektif baru bagaimana sebaiknya menjadi pemuda di era kiwari, terutama dalam mencari formula jawaban atas tantangan zaman yang terbentang dalam beragam sektor kehidupan, mulai dari ekonomi, pendidikan, sosial, kebudayaan, politik, ideologi, dan lain sebagainya.

Sementara itu, Coach Indra Hanjaya, M.Si. sebagai Founder Panca Olah Institute memberikan dasar pemikiran dari kegiatan webinar tersebut. Ia menyatakan bahwa saat ini dunia sedang berubah, dan manusia dituntut dengan kesadarannya untuk melakukan transformasi dalam menghadapi perubahan tersebut.

"Dua hal yang menjadi penting. Saya mengistilahkan sebagai sebuah koin mata uang yang terdiri dari dua keping sisinya. Yang pertama adalah kita harus berlandaskan kepada tauhid. Yang kedua adalah kesadaran. Tauhid tidak bisa berdiri tanpa kesadaran. Begitu pun sebaliknya," ungkap Coach Jaya.

Tauhid dan kesadaran itulah yang menjadi inti transformasi (core of transformation) manusia dalam upaya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan bermakna. Pendekatan yang digunakan ialah inside-out program, sehingga dengan itu manusia akan mengeluarkan fitrah dirinya untuk menjalankan peran-peran kehidupan yang diembannya.

Coach Indra Hanjaya, M.Si.

Masuk ke sesi inti diskusi, moderator memberikan dua pertanyaan kunci kepada narasumber untuk dielaborasi lebih lanjut, yakni bagaimana model pendidikan yang tepat untuk melahirkan generasi muda yang tangguh dan sehat mentalnya?

Lalu pendekatan psikologi seperti apa yang tepat untuk diterapkan sesuai dengan kultur pemuda Indonesia saat ini, sehingga mereka bisa memiliki resiliensi mental yang kuat dalam menjalani kehidupan yang diwarnai dengan tantangan zaman di beragam sektor kehidupan sekarang?

Prof. Dr. Achmad Syahid, Guru Besar Fakultas Psikolog UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengawali paparannya dengan memberikan otokritik terhadap penggambaran pemuda yang dikesankan lemah, tidak berdaya, dan segenap citra negatif lain yang cenderung berlebihan.

Ia mencontohkan bagaimana istilah kenakalan hanya dilekatkan kepada remaja (kenakalan remaja), padahal sikap-sikap kenakalan itu juga bisa saja dilakukan oleh orang tua, guru, dosen, dan beragam pihak lainnya.

"Mari kita keluar dari penggambaran pemuda yang sifatnya peyoratif dan melemahkan. Itu semua adalah jebakan teori yang sifatnya tidak konstruktif. Saya lebih cenderung mengapresiasi pemuda, karena tidak mungkin kita menaruh harapan kepada pemuda yang notabene mereka adalah penerus peradaban bangsa," ujar pria yang juga menjadi Founder Rumah Polymath tersebut.

Sosok yang juga penulis buku "Diskursus Psikologi Islam di Indonesia" itu kemudian memberikan ilustrasi bagaimana karakter pemuda itu dalam gambarannya tercermin seperti figur-figur besar macam Alexander The Great, Sultan Mehmed II (Muhammad al-Fatih), Ali bin Abi Thalib, Soekarno, Moh. Hatta, Tan Malaka, dan seterusnya.

Dalam kaitannya dengan isu kesehatan mental, Prof. Syahid mengemukakan bahwa menjadi pemuda saat ini memang diperlukan mental yang tangguh dan kuat, namun bukan berarti tanpa celah. Sesekali menangis atau menderita pun tidak menjadi masalah, karena itu adalah bagian dari proses penguatan mental.

Menurutnya, hari ini kita bisa melihat masalah kesehatan mental jauh lebih baik daripada generasi orang tua terdahulu, karena telah didukung oleh alat dan ilmu pengetahuan yang lebih memadai. Di ranah keilmuan psikologi misalnya, muncul dan berkembangnya corak psikologi positif boleh disebut sebagai satu hal yang penting dan patut disyukuri.

Lebih lanjut, Prof. Syahid juga memberikan otokritik terhadap sistem pendidikan nasional yang terlalu kaku dan tidak lentur, serta membuat tembok-tembok yang restriktif. Melalui metafor sebuah pohon, ia menjelaskan bahwa model pendidikan yang terlalu bertumpu pada pendekatan tersebut (terlalu bertumpu pada spesialisasi dan linieritas) menghasilkan pohon yang tidak banyak buahnya, daunnya, dan rantingnya karena dibonsai sedemikian rupa.

Prof. Dr. Achmad Syahid

"Saya selalu mengidamkan manusia polymath. Manusia yang sanggup menguasai hampir semua ilmu pengetahuan dengan baik. Dia tidak membatasi dirinya untuk menekuni pada satu bidang ilmu. Dia merambah dunia, berdansa di antara semua ilmu, melanglang buana untuk menembus batas semesta," terang Prof. Syahid.

Selanjutnya, Dr. Muhammad Faisal sebagai narasumber kedua memberikan pantikan untuk berdiskusi kepada para peserta yang hadir. Founder dari Youth Laboratory Indonesia itu menyatakan bahwa orang yang belajar psikologi dan pendidikan pun pada realitanya tidak imun terhadap masalah kesehatan mental.

"Permasalahan mental hari ini berbeda dengan era sebelumnya. Ia lebih bersifat kasuistik, seperti hubungan dengan orang tua, trauma, atau permasalahan klinis lainnya. Permasalahan mental generasi muda sekarang bisa dikatakan sistemik, karena hampir bermunculan di berbagai tempat, dalam berbagai istilah, dalam berbagai nuansa," ungkap Dr. Faisal yang pada tahun ini merilis buku berjudul "Pasar dan Karier Kembali ke Akar: Rekonstruksi Pasar dan Dunia Kerja di Tangan Generasi Muda."

Hal ini salah satunya disebabkan manusia yang mengalami alienasi atas dirinya sendiri. Mayoritas generasi muda hari ini tidak mampu menemukan dirinya. Mengenali apa sebenarnya yang diinginkan oleh dirinya dan menemukan jati dirinya. Pengaruh teknologi, seperti penggunaan gadget yang berlebihan, menjadi salah satu faktor atas fenomena ini.

Penulis buku "Generasi Kembali ke Akar: Upaya Generasi Muda Meneruskan Imajinasi Indonesia" itu juga menjelaskan bahwa penting bagi kita di hari ini untuk terus memahami krisis multidimensi yang terjadi hari ini dengan menggunakan pendekatan jangka panjang.

Artinya, kita harus mengambil pengalaman-pengalaman dari masa lalu, tidak hanya fokus ke titik sekarang dan masa depan. Itulah yang disebut sebagai oleh Ari Wallach sebagai transgenerational empathy. Dengan belajar dari memori kolektif generasi pendahulu kita yang juga pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya, hal ini akan menguatkan mentalitas kita. Mental manusia hasil didikan ayah dan ibu kita, kakek-nenek, dan pendahulu kita.

Dr. Muhammad Faisal

"Mental itu juga ada kaitannya dengan rasa. Rasa ini berkaitan dengan perasaan dekat. Artinya, generasi muda hari ini perlu menumbuhkan rasa dekat, baik ke generasi terdahulu maupun kepada sesama generasinya, yang itu sangat penting untuk menghadapi tantangan zaman," ujar Dosen Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya tersebut.

Sebagai contoh, penerapan rasa kedekatan ini tercermin dari para tokoh pemuda yang menjadi founding fathers negeri ini. Bagaimana dalam zaman yang belum mengenal teknologi dahulu mereka berkumpul dalam Kongres Sumpah Pemuda dan merasa dekat satu sama lainnya untuk mewujudkan cita-cita besar berupa kemerdekaan Indonesia.

Memungkasi paparannya, sosok yang pernah ditasbihkan sebagai Ilmuwan Muda Terkemuka oleh Tempo Institute pada tahun 2019 lalu memberikan pesan bagi generasi muda sekarang untuk menemukan jati diri, menemukan suara di dalam dirinya sendiri.

Oleh karena itu, prioritas utama dunia psikologi dan pendidikan hari ini ialah mendidik anak muda bukan hanya untuk mempersiapkan dunia kerja, melainkan membantu mereka menemukan jati dirinya sebagai manusia, sebagai anak bangsa, dan sebagai orang Indonesia.


Leave a Reply