Memperingati Hari Ayah Nasional, Para Pemuda Ungkap Keberadaan Sosok Ayah dalam Sarasehan Selasa Kliwonan

RABU, 16 NOVEMBER, 2022

Memperingati Hari Ayah Nasional, Para Pemuda Ungkap Keberadaan Sosok Ayah dalam Sarasehan Selasa Kliwonan

PancaOlah.com- Memperingati Hari Ayah Nasional yang jatuh pada tanggal 12 November, Panca Olah Institute mengadakan Sarasehan Selasa Kliwonan dengan tema "Bapakku Kok Gak Koyok Bapak'e Arek-Arek" secara luring di Kantor Panca Olah Institute yang beralamat di Pondok Jati Blok U No. 13, Sidoarjo.

Acara ini dihadiri oleh para pemuda yang tergabung dalam beberapa organisasi kepemudaan (OKP) yang tersebar di Sidoarjo, seperti Kampoeng Sinaoe, Aliansi BEM Delta, HIMO Sidoarjo, Sahabat Beasiswa Chapter Sidoarjo, dan lain sebagainya.

Sarasehan Selasa Kliwonan sendiri merupakan forum diskusi secara rutin yang diadakan setiap satu bulan sekali dengan agenda utama untuk membahas isu-isu terkini yang sedang berkembang di kalangan masyarakat.

Latar belakang agenda ini ialah menghidupkan tradisi yang telah dirintis oleh Ki Ageng Suryomentaram bersama Ki Hajar Dewantara dalam mewadahi masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya dalam bidang pendidikan, sosial kemasyarakatan, budaya, ekonomi, dan lain-lain.

Sarasehan Selasa Kliwonan Hari Ayah Nasional

Mengawali diskusi, Sri Herlina sebagai salah satu fasilitator mengemukakan beberapa bahan diskusi mengenai tema yang diangkat, yakni fenomena fatherless di Indonesia. "Berdasarkan data yang disebutkan oleh Khofifah Indar Parawansa saat masih menjadi Menteri Sosial Republik Indonesia, Indonesia berada di peringkat ketiga di dunia sebagai fatherless country," ujar Lina.

Setelah itu, ia kemudian mengurai apa sebenarnya makna fatherless? Bahwa fatherless bukanlah ketiadaan sosok ayah secara fisik belaka, melainkan juga tidak adanya dukungan berupa kehadiran figur ayah secara emosional, psikologis, atau bahkan spiritual.

Lina melanjutkan bahwa sistem patriarki yang masih begitu dominan, di mana ayah digambarkan sebagai orang yang mencari nafkah dan ibu berperan sebagai orang yang mengurus anak di rumah, menjadi salah satu penyebab kenapa fenomena fatherless ini begitu marak di Indonesia.

Hal ini tentu menjadi fenonema serius yang perlu disikapi oleh para pemuda, karena diakui atau tidak, peran ayah dalam proses tumbuh dan berkembangnya anak sangat penting untuk membangun resiliensi, daya juang, dan kegigihan dalam menjalani kehidupan.

Sarasehan Selasa Kliwonan Hari Ayah Nasional

Forum diskusi pun kemudian semakin mencair dan menarik ketika Fahdina Ilal Haqqi atau lebih akrab disapa Dina mengajak para peserta yang hadir membagikan kisah mengenai makna dan memori tentang sosok ayah secara personal bagi kehidupan yang mereka jalani.

Sikem misalnya menceritakan bahwa baginya ayah dia adalah ayah dari banyak orang, karena ia telah kehilangan sosok ayah sejak usia dini. Sehingga, gambaran ayah dalam dirinya terletak pada sosok guru, wali kelas, dan beragam figur lain yang tentu bukan ayah secara personal, melainkan juga dimiliki oleh banyak orang.

Lain halnya dengan pengalaman Adifananda. Ia mengungkapkan pengalamannya berhubungan dengan dua sosok ayah. Pertama ialah ayah kandung, sedangkan kedua ialah ayah sambung (suami kedua dari ibunya) karena ayah pertamanya meninggal saat ia berusia berada dalam tahap remaja.

Sarasehan Selasa Kliwonan Hari Ayah Nasional

Menurutnya, sosok ayah kandung merupakan salah satu motivasi terkuat yang ia miliki untuk berprestasi di beragam bidang. Sang ayah kandung selalu peduli dan memberikan dorongan agar ia tidak mudah menyerah dan terus mencoba.

Sementara itu, figur ayah sambung justru bertolak belakang dengan sosok ayah kandung. Baginya, ayah sambung yang ia miliki sekarang lebih mementingkan harta dan istri, serta kurang peduli terhadap anak-anaknya.

Cerita berbeda datang dari Rudy. Ia menjelaskan bahwa ayah dan ibunya pergi merantau untuk bekerja di Malaysia, sehingga sejak kecil ia tak pernah bersentuhan secara intens dengan sosok ayah. Ia dititipkan kepada salah satu pondok pesantren di dekat tempat tinggalnya kurang lebih selama 10 tahun. Dari sini, ia merasa bahwa ia hidup sebatang kara, sehingga apa pun masalah yang ia hadapi, ia harus mencari jawaban dan menyelesaikannya sendiri.

Sarasehan Selasa Kliwonan Hari Ayah Nasional

Kisah lain diungkapkan oleh Iim. Baginya, kehadiran sosok ayah memiliki memori tersendiri yang begitu kuat dalam hidupnya. Semasa ayahnya masih ada, ia sering melakukan belajar bersama, mengkaji kitab tertentu, hingga berdiskusi tentang hal-hal yang menyenangkan dan bermanfaat.

Akan tetapi, sejak ayahnya berpulang ke hadirat Allah, ia kehilangan sosok ayah tersebut. Sebagai gantinya, ia justru menemukan pengganti dari figur ayah yang hilang tersebut dalam diri ibunya dan ibu dari teman-temannya yang mengisi kekosongan hadirnya figur ayah dalam hidupnya.

Sarasehan Selasa Kliwonan Hari Ayah Nasional

Perspektif lain dikemukakan oleh Rahma. Kehadirannya dalam acara Sarasehan Selasa Kliwonan baginya ialah upaya untuk menyembuhkan inner child tentang memorinya akan sosok ayah yang telah tiada. Sebagai anak pertama, ia merasa bertanggung jawab untuk menyampaikan kepada adik-adiknya mengenai bagaimana peran ayah seharusnya dalam kehidupan mereka.

Selain lima kisah di atas, tentu banyak lagi pengalaman personal yang disampaikan oleh para peserta yang hadir. Azzah Ambarani Hidayat sebagai salah satu fasilitator kemudian memberikan satu kesimpulan bahwa kita harus menyadari bahwa begitu pentingnya peran dan kehadiran sosok ayah secara utuh dan penuh bagi anak, baik secara fisik, emosional, dan psikologis.

Tak berhenti di situ, ia juga mengajak para peserta yang hadir untuk membagikan apa yang mereka dapat dalam Sarasehan Selasa Kliwonan kepada teman-temannya yang lain agar kesadaran mengenai fenomena fatherless ini semakin menyebar, lalu memunculkan sebuah keresahan yang sama dan berujung pada upaya konkret yang bisa dilakukan bersama untuk mengatasi problem fatherless yang cukup tinggi di Indonesia.


Leave a Reply