Ziarah Ruang Dalam

RABU, 13 SEPTEMBER, 2023

Ziarah Ruang Dalam

Saat akan meninggal, ada dua lorong yang menunggu kita. Satu adalah lorong bagi mereka yang telah sadar (lorong kesadaran) akan kediriannya selama hidupnya. Sedangkan lorong kedua diperuntukkan bagi siapa saja yang segel dirinya masih terkunci rapat dan belum terbuka sama sekali semasa mereka hidup di dunia.

Setiap peran yang kita emban membawa konsekuensi berupa paket ujian yang mau tidak mau harus kita terima dengan lapang dada. Oleh karenanya, bahkan uzlah pun menjadi tidak baik jika dilakukan dalam waktu yang terlalu lama.

Manusia mutlak harus menziarahi ruang dalamnya, karena jati dirinya terletak pada hal-hal yang tergolong ke dalam majelis ruang dalam. Sayangnya, mayoritas waktu setiap orang habis untuk melakukan apa yang justru termasuk ke dalam majelis ruang luar (sekolah, bekerja, bergaul dengan masyarakat, dan lain sejenisnya).

Imam Ghazali mengemukakan bahwa orang yang terlalu keasyikan menghabiskan waktunya untuk majelis ruang luar, maka ia sama dengan menyia-nyiakan umurnya. Pertanyaannya adalah kapan kita mengenal diri? Kapan membuka segel diri, sehingga kita bisa menemukan jati diri kita sebenarnya?

Penting untuk kita belajar mengenal diri kepada orang yang telah berpengalaman, bukan sekadar memahami teori belaka. Ibaratnya adalah orang yang berbicara tentang manisnya gula dan benar-benar sudah pernah merasakan manisnya gula. Bukan mereka yang hanya mengetahui teori bahwa gula itu manis, namun belum pernah mencicipi rasanya.

Sehingga saat pertemuan antara murid dan guru pembimbing tersebut terjadi, maka yang sebenarnya sedang berlangsung adalah pertautan antara jiwa dengan jiwa. Pertemuan antara kesadaran untuk belajar dan kesadaran untuk membimbing sang murid.

Ziarah Ruang Dalam

Berbeda dengan majelis ruang dalam, majelis ruang luar itu segala sesuatu yang terkait dengan fisik dan pikiran kita. Majelis ruang luar itu agak rentan, karena banyak hal yang sifatnya takdir itu diundang oleh dosa-dosa yang kita perbuat sendiri.

Jika dosa itu tidak kita sadari dan taubati, maka ia akan berdampak secara berkepanjangan, sehingga rezeki tersumbat, pertolongan Allah tidak hadir, bahkan mengacak-acak takdir atas kehidupan kita. Masalah kesadaran di majelis ruang luar itu bisa diacak-acak dengan kelemahan di ruang dalam.

Hari ini, banyak fenomena di mana seseorang menonjolkan diri dengan majelis ruang luar, namun sejatinya hal itu tidak bisa merubah kesadaran manusia. Banyak orang yang sudah hafal Al-Qur'an, namun tidak berdampak pada peningkatan kesadarannya sebagai manusia. Shalat masih perlu disuruh-suruh, berbuat baik tidak lahir dari dalam dirinya, dan lain sebagainya.

Manusia adalah makhluk yang dikekalkan oleh Allah. Dari perspektif tauhid, ada beberapa hal yang dikekalkan oleh Allah atas ciptaan-Nya. Salah satunya ialah makhluk yang bernama manusia, sehingga salah jika kita berpikiran bahwa kematian adalah akhir dari segalanya. Padahal jati diri manusia itu bukan terletak pada tubuh fisiknya.

Jati diri manusia itu sebenarnya terletak di ruh. Namun pada praktiknya ia menggunakan perantara yang bernama jiwa. Sehingga kelak yang akan diminta pertanggungjawaban atau bahkan disiksa di alam barzakh adalah jiwa. Sedangkan ruh itu ada di alam keabadian setelah gonjang-ganjing kiamat berakhir.

Ziarah Ruang Dalam

Saat telah melewati tahapan hisab di jembatan shirathal mustaqim, di situlah barulah ruh yang akan mengambil kendali. Jika ia tergolong hamba yang dirahmati, maka ruh tersebut akan merasakan kenikmatan yang tiada tara. Begitu pun sebaliknya, azab yang diterima oleh hamba yang dimurkai pun deritanya tiada tara.

Jalan untuk mengenal jati diri kita adalah melalui kesadaran. Yakni dengan mengintegrasikan antara kesejatian (ruh dan jiwa sebagai perantara) dengan alat yang kita gunakan selama hidup di dunia (tubuh fisik).

Oleh karena itu, jika kita ingin ma'rifat di dunia ini, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenali tubuh fisik kita. Mulai dari organ-organ tubuh yang sifatnya tampak dari luar, hingga yang tersimpan di dalam diri.

Tidak cukup bagi seseorang dengan belajar mengenai wudhu, gerakan shalat, atau segenap ibadah ritual lainnya. Ada pembenahan lebih lannjut dalam diri yang juga harus dilakukan. Kita perlu mempelajari dan mengenali ruang dalam diri kita.

Ironisnya, saat ini hampir 90 persen lebih orang yang melakukan aktivitas fisik tidak terhubung dengan jati dirinya. Sebagai contoh, hal ini tercermin orang yang hafal Al-Qur'an tidak serta merta berakhlak baik atau mereka yang rajin dalam beribadah juga tidak menjamin akan bersikap jujur dalam kehidupan sehari-harinya.

Ziarah Ruang Dalam

Dalam majelis ruang dalam, ada kelapangan, ketenangan dan kedamaian di sana. Bahkan kebahagiaan hakiki itu hanya ada di majelis ruang dalam. Pemerolehannya pun terbilang sederhana, karena syarat untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut hanya ada satu, yakni dengan memberikan kebahagiaan ke banyak orang.

Dengan membahagiakan orang lain itulah kita akan merasakan kebahagiaan di dalam diri. Tak hanya itu, kebahagiaan itu juga harus kita dapatkan sekarang, karena kabarnya jika kita tidak bahagia di dunia, maka kelak di akhirat hampir bisa dipastikan kita juga tidak akan bisa bahagia, karena syarat untuk mendapatkan kebahagiaan di sana ialah dengan terlebih dahulu merengkuh rasa bahagia itu di sini.

Penulis: Indra Hanjaya - Chairman


Leave a Reply