Tiga Hikmah Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad

KAMIS, 8 FEBRUARI, 2024

Tiga Hikmah Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad

Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa Isra' Mi'raj yang ditempuh oleh Nabi Muhammad saw pada tanggal 27 Rajab dalam hitungan kalender hijriah. Momen ini memberikan banyak hikmah untuk diteladani dalam kehidupan sehari-hari sebagai manusia di muka bumi.

Rajab sendiri sebagai bulan terjadinya perjalanan dari Masjid al-Haram ke Masjid Al-Aqsa, lalu dilanjutkan dengan menuju Sidratul Muntaha saat Nabi Muhammad mendapatkan risalah untuk menjalankan salat lima waktu tergolong ke dalam bulan-bulan yang dimuliakan (asyhurul hurum).

Kemuliaan ini ditandai dengan larangan untuk berperang serta berbuat hal-hal yang buruk. Rasulullah sendiri terhitung mulai berperang pada usia 53 tahun, dan sampai kewafatannya beliau paling tidak sudah terlibat dalam 96 perang secara langsung dengan fisiknya.

Secara historis, Isra Mi'raj terjadi pada tahun ke-10 dari masa kenabian. Vibrasi dari salah satu kisah monumental dalam sejarah umat manusia ini memiliki bahasa yang kuat, sehingga pembahasan mengenai apa dan bagaimana detail peristiwa tersebut terus dibahas, baik secara populer maupun ilmiah.

Dari sisi ilmiah, fakta menarik dari peristiwa Isra Mi'raj ini adalah bagaimana dalam perjalanan tersebut sosok manusia agung bernama Nabi Muhammad menggunakan kecepatan cahaya yang selama ini diasumsikan mustahil dilakukan oleh manusia. Teori Einstein mengatakan bahwa makin mendekati kecepatan cahaya, dibutuhkan energi yang sangat besar dengan waktu yang melambat.

Menurut Agus Purwanto, Guru Besar Fisika Teori ITS, menggunakan logika sains, Nabi Muhammad melakukan perjalanan dengan buraq dengan kecepatan cahaya. Adapun jarak yang ditempuh oleh Rasulullah sejauh 4.320.000.000 kilometer. Perjalanan tersebut ditempuh dalam waktu kurang lebih 4 jam (sepenggal malam).

Dengan menggunakan logika tersebut, peristiwa Isra' Mi’raj Nabi Muhammad jelas tidak dapat dijelaskan, termasuk dengan teori Einstein. Lebih lanjut, Agus meneruskan, penjelasan yang masih mungkin ialah Rasulullah menembus ruang dan waktu dimensi yang lebih tinggi, yakni metafiska.

Begitu penting dan sakralnya peristiwa ini, sampai-sampai ada sebuah ritual khusus yang harus dilakukan oleh Nabi Muhammad sebelum menjalani rangkaian perjalanan Isra' Mi'raj. Proses itu adalah pembelahan dada untuk membersihkan hati dan jiwa yang ada dalam diri baginda Nabi.

Secara keseluruhan, tercatat setidaknya tiga kali proses pembelahan dada ini pernah dialami oleh Rasulullah sepanjang hidupnya. Pengulangan itu menunjukkan bahwa pembersihan diri adalah proses yang tidak cukup sekali saja, tetapi perlu dilakukan terus menerus secara kontinyu, terlebih jika kita sadar begitu banyak sampah dalam diri ini.

Hakikat diri kita adalah percikan cahaya Allah, dan hal itulah yang harus dibereskan. Wudu dan mandi yang kita lakukan sehari-hari itu urusannya dengan fisik, yang mana itu bertujuan agar kita sadar bahwa diri kita bukan sekadar tubuh fisik, melainkan hakikatnya adalah cahaya. Karena itulah kita juga perlu membersihkan aspek batin, bukan aspek lahir semata.

Siapa yang meyakini bahwa diri kita akan meninggal, maka kufur hukumnya. Karena manusia sejatinya tidak pernah meninggal, melainkan abadi, bahkan meskipun kita disiksa di neraka. Kesadaran bahwa manusia dikekalkan inilah yang menjadi dasar bahwa manusia bukanlah tubuh fisik, tetapi makhluk spiritual yang intinya berada pada ruh dan kesadaran.

Pesan pertama dari Isra' Mi'raj adalah pentingnya bersih-bersih diri, utamanya dari sampah emosi, kejiwaan, dan dosa-dosa yang tiap hari bertambah dalam hidup kita. Dengan bahasa lain, hal yang perlu kita lakukan secara total ialah taubat atas segala kesalahah, kebodohan, kelalaian, dan kezaliman kita atas diri sendiri maupun terhadap orang lain dan alam semesta.

Penyucian diri inilah yang akan membawa peningkatan kualitas kita sebagai manusia yang berkesadaran. Berpisahnya Malaikat Jibril dengan Nabi Muhammad itu merupakan contoh betapa baginda Nabi memiliki level kesadaran yang lebih tinggi dari segala ciptaan Allah yang lain, termasuk Malaikat Jibril sebagai pemimpin para malaikat.

Sementara itu, perjumpaan Nabi dengan Allah adalah manifestasi dari proses penyucian diri untuk menggapai ma'rifat Ilahi. Sidratul Muntaha itu ruang hampa. Hanya ada Allah dan Rasulullah saat puncak perjalanan Isra' Mi'raj itu. Di alam semesta ini tidak ada ruang hampa, semuanya terdapat makhluk di dalamnya, terkecuali ruang-ruang hampa yang dikehendaki oleh Allah.

Pesan kedua ialah bahwasanya kita ini beruntung sebagai umat Rasulullah, pribadi terbaik yang paling mulia dari semua manusia. Beliau juga satu-satunya yang diberikan hak veto untuk memberi syafaat secara keseluruhan kepada manusia. Baginda Rasul juga merupakan teladan terbaik (uswatun hasanah) yang bisa dijadikan referensi oleh seluruh umat manusia.

Artinya, jika hidup kita ingin bahagia, sukses, atau mulia, maka sebenarnya kita bisa berupaya untuk meneladani hal-hal yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw selama masa hidupnya. Dengan jalan itulah ketenangan, kebahagiaan, kesuksesan, hingga kemuliaan bisa kita rengkuh di hidup yang kita jalani saat ini.

Sementara itu, pesan ketiga dari momentum peringatan Isra' Mi'raj tentang penting serta mulianya perintah salat. Dari berbagai ritual keagamaan yang ada dalam tradisi Islam, hanya dalam salat inilah Rasululllah harus melewati proses panjang untuk menerima mandat langsung dari Allah untuk ibadah ini.

Ada tiga ibadah yang dicintai oleh Allah, di mana salah satunya ialah melaksanakan salat di awal waktu. Hal ini mengandung pesan tersirat bahwa manusia perlu memperbaiki kualitas salat yang dilakukan. Bukan hanya menjadi penggugur kewajiban belaka, melainkan juga berdampak pada kesadaran dan perilaku sehari-hari terhadap diri sendiri, sesama manusia, serta alam semesta raya.

Penulis: Indra Hanjaya - Chairman


Leave a Reply