Sang Begawan Guru Bangsa: Menelisik Peran dan Ajaran Eyang Santri (1)

SENIN, 19 APRIL, 2021

Sang Begawan Guru Bangsa: Menelisik Peran dan Ajaran Eyang Santri (1)

Di balik berdirinya negara bangsa yang kemudian bernama Indonesia, terdapat sosok penting yang rela berjuang dan berkorban dengan sepenuh raga, pikiran, dan hatinya. Beberapa nama yang bisa disebut di antaranya H.O.S. Tjokroaminoto, Ir. Soekarno, Moh. Yamin, Ki Hajar Dewantara, dan banyak lainnya.

Perjuangan yang ditempuh oleh para pendiri bangsa dahulu bukan hanya sebatas upaya lahiriah, namun juga tirakat batiniah yang dibimbing oleh guru dengan kualifikasi dan kompetensi tertentu. Salah satu guru yang berpengaruh ialah Kiai Muhammad Santri atau lebih populer dengan sebutan Eyang Santri.

Kepada beliaulah para pendiri bangsa banyak meminta pendapat dan nasihat mengenai soal-soal kebangsaan dan kenegaraan. Tentu tanpa melepaskan diri dari kearifan tradisi, kebudayaan, dan agama yang menjadi akar pengetahuannya.

Bernama lengkap KPH Jayakusuma, beliau merupakan cucu dari Pangeran Sambernyawa (Mangkunegara I). Dari pernikahan dengan Raden Mas Ayu Kusuma Patahati, Pangeran Sambernyawa memiliki anak bernama RM. Sura yang bergelar Pangeran Harya Prabumijaya.

Selanjutnya, pernikahan antara KPH Prabumijaya dengan Raden Ayu Trikusuma Putri itulah lahir Pangeran Arya Jayakusuma, atau dikenal juga dengan Kiai Muhammad Santri.

Menurut penuturan Ibu Tito Ahdiyati, cucu dari Kiai Santri, beliau lahir pada tahun 1771 dan wafat pada 31 Mei 1929. Artinya, usia Kiai Santri dalam hitungan angka ialah sekitar 158 tahun.

Dr. Ali M. Abdillah dalam bukunya yang berjudul Sufisme Jawa: Ajaran Martabat Tujuh Sufi Agung Mangkunegaran Kyai Muhammad Santri mengemukakan sembilan bukti terkait keaslian dan fakta usia Kiai Santri berdasar bukti-bukti historis dan arkeologis.

Kiai Santri sendiri menetap di Girijaya, salah satu desa yang ada di Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi setelah Perang Diponegoro yang terjadi pada tahun 1825-1830. Kondisi politik yang kurang kondusif pasca tertangkapnya Pangeran Diponegoro membuat banyak pendukungnya menyamar sebagai orang kecil (nawur kawulo) mengelilingi Pulau Jawa.

Beliau mendatangi pesantren-pesantren dan padepokan di Jawa untuk berguru kepada para kiai. Gausman Supomo bahkan menyatakan bahwa Kiai Santri dalam pengembarannya pernah mengelilingi Pulau Jawa sebanyak tiga kali.

Di antara pesantren yang pernah menjadi tempat persinggahan Kiai Santri ialah Pesantren di Pasiriyan, Jawa Timur. Selain itu, beliau pernah berguru kepada Kiai Ja’far di Gresik dan Kiai Kasan Besari di Pesantren Tegalsari, hingga akhirnya pengembaraan beliau berakhir di kaki Gunung Salak.

Tak hanya itu, Kiai Santri dalam riwayatnya juga pernah berkhalwat di pucuk bukit Girijaya selama sepuluh tahun. Lokasi khalwat tersebut terletak sekitar 3-4 kilometer dari Desa Girijaya, yang saat ini diberi nama Pondok Gusti.

Khalwat sendiri ialah salah satu tradisi dalam dunia tasawuf yang dilakukan dengan tujuan membersihkan serta menyucikan jiwa dan hati dari kotoran-kotoran yang menghinggapi, terutama pengaruh duniawi yang begitu erat.

Peran Vital Kiai Santri 

Semasa hidupnya, Kiai Santri banyak memberikan kontribusi penting dalam perjuangan-perjuangan sosial kemasyarakatan. Meskipun lahir dari keturunan ningrat, sejarah mencatat bahwa Kiai Santri lebih banyak berperan dalam aksi-aksi nyata di lapangan, seperti turun langsung dalam Perang Diponegoro dan gerakan perlawanan terhadap kolonialisme, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Keterlibatan Kiai Santri dalam Perang Diponegoro ialah sebuah bukti bagaimana ia bersikap terhadap kolonialisme. Spirit perjuangan yang beliau bawa terus bergema sepanjang periode hidupnya. Tak salah kemudian jika beliau disebut sebagai tokoh perlawanan kolonialisme dan penggerak nasionalisme.

Di masa pra-kemerdekaan, beliau sering didatangi oleh aktivis-aktivis nasional yang kemudian menjadi muridnya. Pada tahun 1880 misalnya, dr. Soetomo, dr. Wahidin Sudiro Husodo, dan beberapa temannya mendatangi Kiai Santri dalam rangka meminta izin dan restu untuk mendirikan Boedi Oetomo.

Sementara itu, pada awal tahun 1900 beberapa tokoh pergerakan kemerdekaan seperti HOS Tjokroaminoto, Sosrokardono, Pangeran Suryomentaram, Ndoro Purbo, Raden Mas Panji Sosrkoartono, Ir. Soekarno, dr. Tjipto Mangoenkoesomo, KH. Samanhudi, hingga dr. Radjiman Wedyodiningrat sering mendatangi kediaman Kiai Santri untuk berdiskusi dan meminta arahan terkait perjuangan kemerdekaan. Selain itu, tokoh luar negeri semacam Bischop Katolik, Anne Besant, dan Dirk Van Hinloopen Labberton juga kerap datang ke Girijaya.

Terdapat satu kisah menarik ketika Soekarno berada di rumah Kiai Santri dan pasukan Belanda berencana untuk menangkapnya di sana. Melihat kepanikan tersebut, Kiai Santri meminta Soekarno untuk tetap tenang. Kemudian, beliau melepas ikatan sapu lidi yang ada di dekatnya. Syahdan, pasukan Belanda tidak jadi menangkap Soekarno karena mereka hanya melihat sepatu Soekarno, dan tidak menemukan wujud fisiknya.

Kontribusi penting selanjutnya dari Kiai Santri juga bisa dilacak dari bantuan pendananan terhadap Kongres Sumpah Pemuda tahun 1928. Cerita ini bermula ketika Moh. Yamin dan rekan-rekannya sowan ke Kiai Santri sebelum acara terssebut dilaksanakan.

Mereka menyampaikan bahwa ada masalah terkait pelaksanaan kegiatan tersebut, yakni kekurangan dana. Tanpa berpikir panjang, Kiai Santri segera memberikan gelontoran dana sebesar 1000 gulden dari total biaya 1500 gulden. Berkat bantuan itulah acara Kongres Sumpah Pemuda bisa terlaksana dengan baik dan sukses.


Leave a Reply