Mengawali tulisan ini, saya ingin mengingatkan kembali satu hal penting yang perlu kita sadari bahwa hidup ini tidak memberikan ancaman apa pun. Sakit, susah, bangkrut, huru-hara, bahkan kiamat pun tidak mengancam kita. Akan tetapi, hal yang paling mengancam ialah kezaliman terhadap diri sendiri.
Selama kita bertauhid, maka segala sesuatunya menjadi rahmat bagi kita selaku manusia. Sebaliknya, hati yang kotor, rasa iri dengki, atau tidak tahu bagaimana arah dan semestinya kita hidup itulah hal yang berbahaya bagi kita sebagai manusia.
Oleh karena itu, perlu kita ingat kembali betapa pentingnya komponen yang secara sederhana bisa disebut sebagai rumus 5+2 yang terdiri dari isi piring, isi gelas, isi kepala, isi dada, dan isi rumah. Lima hal itu kemudian ditopang oleh istirahat serta olahraga yang pas takaran dan dosisnya.
Isi piring dan isi gelas sendiri merupakan hal yang termasuk ke dalam urusan spiritual. Berbicara isi piring misalnya sebenarnya berkaitan dengan proses pembentukan kesadaran yang kita miliki dalam kehidupan sehari-hari.
Satu tubuh manusia terdiri dari triliunan sel. Setiap sel sendiri akan merespons apa yang kita konsumsi dan manifestasi respons itu akan terwujud dalam sikap dan perilaku kita. Jika sel terzalimi karena apa yang kita konsumsi, maka ia akan menjerit dan pada level lebih lanjut akan mempengaruhi kondisi emosi kita, mulai dari rasa bahagia, sedih, kecewa, dan lain sebagainya.
Saat kita merasa sakit, biasanya langkah pertama yang akan kita lakukan jika keadaan tidak kunjung membaik ialah pergi ke dokter. Kemudian, dokter pun melakukan pemeriksaan dari tahap mendasar, mulai dari cek tensi dan suhu tubuh, pemeriksaan darah, pemeriksaan urine, hingga level lanjutan seperti CT Scan, MRI, dan seterusnya.
Akan tetapi, satu yang luput dari pemeriksaan medis di sini ialah inti dari inti manusia, yakni aspek jiwa, khususnya mengenai kondisi emosi seseorang. Asumsikan kita menderita demam dan infeksi tubuh. Semua itu tentu ada sebab dan akibatnya. Begitu pula dengan penyakit degeneratif seperti jantung koroner, kanker, gagal ginjal, dan sebagainya. Fakta menariknya hampir 85 persen penyakit degeneratif itu disebabkan faktor emosi.
Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dengan iri dengki, sakit hati berkepanjangan, atau rasa dendam. Itu semua adalah pemicu penyakit, masalah, kesengsaraan, hingga penderitaan. Hal-hal semacam inilah yang berbahaya dan perlu kita waspadai bersama. Dalam hidup ini, intinya apa pun itu yang berbentuk ibadah jika tanpa diiringi dengan kesadaran, maka akan masuk ke dalam sisi gelap. Tak heran kemudian jika kita melihat sisi gelap yang muncul dari sosok seperti kiai, santri, ustad, orang yang rajin beribadah, hingga dalam diri orang yang berilmu.
Berbicara tentang umur dan kesehatan, misalnya, perlu disadari bahwa antara umur dan kesehatan itu merupakan kebaikan dan karunia Tuhan. Dua hal ini memiliki energi dan ada timbangan, ukuran, serta kadar energinya.
Pada bab soal ilmu, amal, dan ritual-ritual itu banyak yang bermasalah karena banyak orang yang beranggapan bahwa agama itu masalah lahiriah belaka. Mereka berpikiran bahwa melaksanakan ibadah yang pokok dan wajib saja sudah bagus sehingga mereka merasa bangga atas hal itu.
Atau orang-orang yang belajar di pondok pesantern, kemudian mereka mempelajari dan membaca kitab-kitab yang jika kita mau jujur sebenarnya hal tersebut merupakan sekadar teori belaka. Tentu bagian itu merupakan sesuatu yang wajib untuk dipelajari. Namun, kita tidak bisa berhenti sampai di situ saja. Manusia terdiri dari dua unsur, yakni jasmani dan ruhani. Kita tidak bisa dikatakan beriman kalau kita secara lahiriah tidak baik dengan sikap tunduk dan patuh misalnya. Pun demikian, kita tidak bisa dianggap beriman jika ruhani kita kita tidak selaras dengan aspek lahiriah atau jasmani kita.
Di titik inilah kemudian peran sikap dan manifestasi cinta, syukur, dan welas asih diperlukan. Ia berkaitan dengan masalah vibrasi dan energi manusia.
Sebagai contoh, dalam sebuah agama, apa yang menjadi aturan serta panduan mengenai ibadah pokok yang telah ditetapkan aturannya (ibadah mahdhah) itu memang penting. Bunyi-bunyian yang menjadai sarana untuk menjalankan ritual ibadah tersebut juga penting.
Akan tetapi, perlu kita ingat bahwa agama itu ada terdiri dari tiga komponen. Mulai dari bunyi, paham, dan mengalami. Seperti diibaratkan sebagai gula, maka tujuan agama sebenarnya menghendaki manusia untuk mengalami dan merasakan secara langsung rasa dari gula tersebut, bukan sekadar berbicara tentang gula atau memahami apa dan bagaimana fungsi gula itu.
Jika ditarik ke dalam praktik pembenahan diri dan juga pembersihan gudang emosi yang sering saya bahas pada beberapa tulisan sebelum ini, satu hal yang tidak mudah ialah bagaimana kita bisa sungguh-sungguh mencintai diri. Ini bukanlah masalah yang sederhana, bahkan ia memerlukan puluhan tahun prosesnya.
Kezaliman paling besar itu ada di hati. Untuk itu, kita perlu menjauhi sikap mengeluh karena sel akan menjerit saat kita mengeluh atas suatu hal. Misalnya ketika makan dan kita mengeluh tentang rasa makanan. Atau cuaca yang terjadi saat kita di luar, seperti terlalu panas atau hujan yang begitu deras. Daripada mengeluh, kita justru perlu menerima kondisi tersebut apa adanya. Saat dalam kondisi sakit, misalnya, kita bisa mengucapkan terima kasih atau segala puji bagi Tuhan. Bahkan jika ada orang yang meninggal dunia kata pertama yang perlu kita ucapkan ialah bersyukur dengan redaksi yang diajarkan oleh agama masing-masing.
Persoalan manusia adalah menzalimi diri sendiri, dosa yang tidak disadari sehingga mendatangkan pesan dari Tuhan yang berwujud masalah dalam hidup kita. Selain itu, ada juga utang-utang kehidupan yang mungkin luput untuk kita sadari.
Ketika sudah menjadi orang, maka sikap orang tua terhadap anak berupa keegoisan yang tinggi, kurang sabar, kurang bijaksana, dan sebagainya juga bisa menjadi utang kehidupan. Kita perlu mengoreksi hal ini jika telah menjadi orang tua. Antara kebenaran yang tidak disadari dan kesalahan yang disadari itu lebih baik yang kedua. Opsi pertama bisa mencelakakan kita sebagai manusia, sedangkan yang kedua itu bisa menyelamatkan kita dari hal-hal yang mungkin tidak kita bayangkan. Pembelajaran pertama dalam proses membenahi diri ialah kita perlu mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Hal yang bisa membuat masalah sebesar apa pun lumer ialah dengan kita mencintai emosinya. Tak sampai di situ, jika bisa bahkan dianjurkan lagi kita bisa memeluk emosi tersebut.
Dua hal yang bisa menjadi cara untuk mencintai diri sendiri. Pertama dalam aspek pikiran, sedangkan kedua dari dalam hati. Hal ini bisa dilatih melalui praktik yang disebut dengan riyadhah atau terapi diri. Tentu saja dalam prosesnya kita perlu bimbingan dari guru atau mentor yang berpengalaman. Salah satu tanda terapi itu berdampak ialah ketika dada kita terasa hangat, ada rasa bergetar dan merinding, serta menangis dengan luapan bahagia.
Praktik mencintai diri dalam level lebih lanjut tidak hanya terbatas pada diri kita sendiri, tetapi juga berkembang menjadi mencintai segala hal, serta mencintai apa pun yang menjadi amanah Tuhan kepada kita, seperti pasangan, anak, rumah, harta, dan sebagainya.
Ketika dasar pembenahan diri sudah dilakukan, tahap selanjutnya ialah bagaimana kita bisa menyalurkan energi melalui terapi cinta dan kebaikan hati (loving kindness). Melakukan praktik dari tahap ini akan mendatangkan pikiran yang jernih, positif, tenang, dan damai. Adapun hati akan terasa terhubung dengan diri, semesta di sekeliling kita, serta Tuhan yang menjadi sang sumber energi.
Sel akan bahagia dan tersenyum saat kita melakukan praktik loving kindness, baik terhadap diri, rumah, amanah yang kita punya, dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan itu semua hal itu terhubung dan sejatinya berada dalam satu kesatuan.
Pemahaman ini selaras dengan metode serta pandangan Albert Einstein tentang fisika kuantum. Secara teori, segala sesuatu itu terhubung dan tidak terpisah. Hal ini juga sejalan dengan wacana spiritualitas yang hari-hari ini mulai mengemuka dan dipelajari oleh banyak manusia. Sebagai contoh, penelitian ilmuwan Jepang menunjukkan tentang molekul air akan berubah melalui sikap-sikap baik dan perilaku tertentu. Selanjutnya, aspek yang juga tak kalah pentingnya ialah bagaimana kita bisa bersyukur. Saat kita bersyukur, maka dalam sisi lain akan terbuka bermacam-macam pintu kebaikan dalam hidup kita, baik dalam aspek pribadi, karir, keluarga, atau hal-hal lainnya.
Manifestasi dari tiga aspek penting di atas bisa kita latih dengan mulai mengupayakan bagaimana dalam hidup ini usia biologis dengan usia sel berada di rentang yang seimbang. Komposisi yang baik ialah satu dibanding dua antara usia biologis dan usia sel. Artinya, usia sel dua kali lebih muda dibanding usia biologis kita.
Dengan kondisi tersebut, maka sel tubuh kita akan berada dalam keadaan bahagia. Jangan sampai usia biologis lebih tua dari usia sel, karena itu akan berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari kita, baik dari sifat, karakter, hingga perilaku dan kebiasaan kita. Materi yang saya tulis ini merupakan sarana untuk regenerasi sel dalam diri. Lagi-lagi saya mengingatkan bahwa segala sesuatu itu mengalir dari dalam ke luar. Prioritas dalam hidup ini adalah melakukan pembenahan diri. Mulai dari menyembuhkan diri, memulihkan diri, membersihkan diri, hingga merapikan diri. Jika kita tidak melakukan ini, maka kemungkinan besar kehidupan kita akan berada dalam kondisi yang berantakan.
Penulis: Indra Hanjaya - Chairman