Menghidupkan Kartini

RABU, 21 APRIL, 2021

Menghidupkan Kartini

Seratus empat puluh dua tahun yang lalu, tepat di hari ini lahir seorang tokoh penggerak dan pejuang wanita asal Jepara, Jawa Tengah. Bernama lengkap Raden Ajeng Kartini, ia tergolong sosok yang kritis dan progresif pada zamannya.

Di saat perempuan lain seusianya tidak bisa merasakan bangku pendidikan sejak kecil, Kartini sempat belajar di Europese Lagere School (ELS). Hal ini dikarenakan ia merupakan keturunan bangsawan dari ayahnya yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Sanad keluarga Kartini dari ayahnya bersambung hingga Sultan Hamengkubuwono IV, dan garis keturunan Sosroningrat sendiri bisa terus ditelusuri hingga pada masa Kerajaan Majapahit.

Banyak orang menyebut Kartini sebagai wanita yang mempelopori kesetaraan derajat antara perempuan dan laki-laki di Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi peristiwa ketika Kartini dilarang untuk melanjutkan pendidikannya setelah ia berumur 12 tahun. Ia merasakan diskriminasi yang terjadi antara perempuan dan laki-laki pada masa itu, di mana beberapa perempuan sama sekali tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan.

Selanjutnya, atas perintah ayahnya Kartini dipaksa untuk tinggal di rumah. Selama ia tinggal di rumah, Kartini kecil mulai menulis surat-surat kepada teman korespondensinya yang kebanyakan berasal dari Belanda. Dari sinilah kemudian ia mengenal Rosa Abendanon.

Abendanon sendiri merupakan sosok penting yang membuat Kartini mulai sering membaca buku-buku dan koran Eropa yang menyulut api baru di dalam hati Kartini, yakni tentang bagaimana wanita-wanita Eropa mampu berpikir maju. Api tersebut menjadi semakin besar karena ia melihat perempuan-perempuan Indonesia ada pada strata sosial yang amat rendah.

Tak hanya itu, Kartini juga banyak membaca De Locomotief, surat kabar dari Semarang yang ada di bawah asuhan Pieter Brooshoof. Kartini juga mendapatkan leestrommel, sebuah paket majalah yang dikirimkan oleh toko buku kepada langganan mereka yang di dalamnya terdapat majalah-majalah tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kartini kecil sering juga mengirimkan beberapa tulisan yang kemudian ia kirimkan kepada salah satu majalah wanita Belanda yang ia baca, yaitu De Hollandsche Lelie.

Dilihat dari surat-surat yang ia kirimkan, tergambar pola pikir Kartini yang selalu membaca segala hal dengan penuh perhatian sambil terkadang membuat catatan kecil. Tak jarang, dalam suratnya ia menyebut judul sebuah karangan atau mengutip kalimat-kalimat yang pernah ia baca.

Beberapa buku yang dibaca Kartini antara lain De Stille Kraacht karya Louis Coperus, Max Havelaar tulisan Multatuli, Die Waffen Nieder buah tulisan Berta Von Suttner, pemikiran Van Eeden, dan roman-feminis yang dikarang oleh Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek. Semua buku di atas dibaca Kartini dalam bahasa Belanda.

Kartini akhirnya menikah secara terpaksa dengan Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada 12 November 1903. Meskipun demikian, suaminya cukup memahami Kartini sehingga akhirnya ia memperbolejkan Kartini membangun satu pusat pendidikan bagi perempuan di zamannya.

Dari pernikahannya, Kartini dianugerahi seorang anak yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat. Pada akhirnya, Kartini kemudian menghembuskan nafas terakhirnya empat hari pasca melahirkan anak satu-satunya di usia 25 tahun.

Warisan Kartini

Peristiwa wafatnya Kartini tidak serta-merta mengakhiri perjuangan yang telah ia rintis semasa hidupnya. Abendanon mengumpulkan surat-surat yang dulu pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Ia lalu membukukan seluruh surat itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht yang jika diartikan secara harfiah berarti Dari Kegelapan Menuju Cahaya. Buku tersebut diterbitkan pada tahun 1911.

Pemikiran Kartini dalam surat-suratnya tidak bisa dibaca oleh beberapa orang pribumi yang tidak dapat berbahasa Belanda. Akhirnya, pada tahun 1922 Balai Pustaka menerbitkan terjemahan buku Abendanon yang diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran dengan bahasa Melayu.

Pada tahun 1938, Armijn Pane, seorang sastrawan terkemuka, menerbitkan versi translasinya sendiri dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku terjemahan versi Pane ini membagi buku tersebut menjadi lima bab. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan dan menganalisa cara berpikir Kartini yang terus berubah.

Di era kontemporer ini, sudah selayaknya generasi penerus bangsa menghidupkan Kartini dengan pola-pola perjuangan yang sesuai dengan zaman. Yudi Latif misalnya menyebut Kartini sebagai manifestasi dari semangat belajar, semangat berjuang, dan semangat emansipasi yang harus dikobarkan terus menerus melintasi ruang dan waktu.


Leave a Reply