Menghayati Idulfitri Sepanjang Hari

RABU, 10 APRIL, 2024

Menghayati Idulfitri Sepanjang Hari

Idulfitri adalah momen yang disambut penuh suka cita oleh jutaan Muslim di seluruh dunia pada akhir bulan suci Ramadhan setelah kurang lebih satu bulan. Jika Ramadhan sering diibaratkan sebagai madrasah, maka idulfitri laksana perayaan wisuda bagi setiap orang yang telah melewati ujian di bulan ini.

Faktanya, tidak semua orang bisa dikatakan lulus dari madrasah tersebut. Satu-satunya alasan yang tepat mengapa idulfitri bisa dinikmati oleh siapa pun, baik mereka yang menjalankan proses puasa dan tirakat diri selama sebulan penuh maupun segerombolan pihak yang hanya ikut meramaikan masa pelatihan di bulan Ramadhan, ialah adanya kemurahan Tuhan untuk memungkinkan terjadinya simbolisme rasa syukur dalam bentuk idulfitri.

Secara harfiah, kata Id berdasar dari akar kata aada – yauudu yang artinya kembali. Sedangkan fitri bisa memiliki dua makna berbeda. Pertama, ia berarti buka puasa dan kedua memiliki arti suci.

Ihwal kata fitri yang berarti buka puasa, hal ini merujuk kepada pada akar kata ifthar dan berdasar hadis Nabi Muhammad Saw yang artinya: ”Dari Anas bin Malik: Tak sekali pun Nabi Muhammad Saw. pergi (untuk shalat) pada hari raya idulfitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya." (HR Bukhari).

Artinya, momen idulfitri merupakan saat di mana seseorang bisa kembali berbuka dan melakukan tradisi makan tanpa ada kewajiban untuk berpuasa dari pagi hingga sore hari, kecuali bagi mereka yang ingin memilih untuk melakukan amalan puasa sunnah lainnya.

Adapun perihal kata fitri yang bermakna suci maupun bersih dosa dan keburukan, hal ini berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru dan hadis Rasulullah SAW yang artinya “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap rida Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan pula bahwa idulfitri bisa berarti kembalinya kita kepada keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kesucian (fitrah). Jadi yang dimaksud dengan idulfitri dalam konteks ini berarti kembali kepada asal kejadiannya yang suci dan mengikuti petunjuk Islam yang benar. Bagi umat Islam yang telah lulus melaksanakan Ibadah puasa di bulan Ramadhan akan diampuni dosanya sehingga menjadi suci kembali seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan Ibunya.

Meskipun demikian, terdapat beberapa opsi untuk menghayati idulfitri sepanjang hari, sepanjang bulan, serta sepanjang tahun. Hal ini bisa dilakukan dengan memaknai dan memosisikan idulfitri sebagai sesuatu yang bukan perayaan seremonial belaka, tetapi juga mengandung ibrah tertentu.

Pertama, ialah menganggap idu fitri sebagai pesan kelanjutan pesan dari Ramadhan. Maknanya, kebiasaan-kebiasaaan serta tradisi baik yang telah dibangun selama satu bulan penuh itu hendaknya diteruskan dalam kehidupan sehari-hari pasca bulan Ramadhan.

Ujian sebenarnya dari latihan yang dilakukan oleh setiap orang justru terletak pada bagaimana ia bersikap dan menjalani hidupnya pada sebelas bulan setelah Ramadhan. Apakah ia bisa mengaktualisasikan apa yang telah dibangun pada bulan Ramadhan? Atau justru ia tergelincir kembali kepada kebiasaan lama yang kurang baik?

Kedua, menandai idulfitri sebagai pengorbanan diri menuju pribadi yang lebih baik. Berkaitan dengan dua jenis hari raya (idulfitri dan iduladha), ada dua jenis pengorbanan, yakni pengorbanan pribadi dan pengorbanan komunal.

Idulfitri adalah perayaan dan pengingat pengorbanan pribadi, sedangkan Iduladha berarti pengorbanan komunal. Setiap Muslim membuat pengorbanan besar selama bulan Ramadhan dengan menahan diri dari apa yang dibolehkan, seperti makan, minum, serta meningkatkan kualitas ibadah dan penghambaan sepanjang malam.

Bahkan mereka yang secara sah tidak dapat berpuasa pun melakukan kurban dengan memperbanyak salat di bulan yang penuh berkah ini. Idulfitri adalah pengingat bahwa setelah setiap pengorbanan, ada waktu kebahagiaan dan perayaan, tetapi seorang mukmin tidak boleh melupakan pelajaran yang dipetik dari pengorbanan ini.

Itulah sebabnya Allah telah menetapkan doa tambahan pada hari idulfitri untuk mengajarkan kepada orang yang beriman bahwa meskipun periode pengorbanan besar mungkin telah berakhir dan puasa tidak lagi diperlukan, namun ia tidak boleh melupakan pelajaran spiritual yang dipelajari.

Ketiga, yakni dengan memaknai idulfitri sebagai saat untuk bebas dari perbudakan. Bulan Ramadhan adalah berkah khusus dari Allah yang memungkinkan kita untuk melepaskan diri dari perbudakan berbagai kebiasaan buruk. Seseorang dapat membebaskan diri dari berbagai kecanduan selama bulan yang penuh berkah ini seperti kemalasan, makan berlebihan, mengutuk, memfitnah dan berbohong, dan lain sebagainya.

Jika seseorang memahami pesan Ramadhan yang sebenarnya, dia juga dapat melepaskan diri dari perbudakan ekonomi dan belenggu kemiskinan dan kelaparan. Oleh karena itu, seseorang yang menjalani bulan Ramadhan dengan setia, sambil menganalisis diri sendiri, seperti yang dilakukan Nabi Muhammad, pasti akan terbebas dari berbagai belenggu dan belenggu. Dalam pengertian ini, hari idulfitri memang merupakan hari perayaan besar dan kebahagiaan karena merupakan hari kebebasan dan kemerdekaan sejati bagi manusia.

Terakhir, idulfitri memiliki kaitan khusus dengan pertemuan orang-orang terkasih. Ini adalah hari ketika kita tidak hanya pergi ke rumah kerabat kita, tetapi kita merangkul bahkan mereka yang mungkin tidak kita kenal secara pribadi, setelah khutbah idulfitri.

Filosofi spiritual idulfitri yang sebenarnya juga merupakan filosofi pertemuan yang dicintai seperti yang digambarkan oleh Nabi Muhammad saw, yakni pertemuan dengan Tuhan nanti. Pada salah satu hadis, disebutkan bahwa ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, yakin kebahagiaan ketika berbuka setelah puasa seharian dan kebahagiaan ketika bertemu Tuhannya kelak setelah menjalani laku lampah puasa di dunia.

Maka, idulfitri yang sebenarnya adalah bagi mereka yang mampu mengembangkan hubungan dengan Allah yang mereka cintai selama bulan Ramadhan. Idulfitri juga merupakan pengingat bahwa beberapa pertemuan, beberapa hubungan, bersifat sementara, dan meskipun kita menemukan kebahagiaan dari kenalan sementara ini, kebahagiaan sejati adalah bertemu dengan yang dicintai secara permanen dan menjadi satu dengan-Nya selamanya.

Banyak dari kita menemukan kegembiraan bertemu dengan Tuhan kita tercinta selama bulan Ramadhan, tetapi hubungan ini tidak bertahan lebih dari sebulan. Idulfitri adalah pengingat bahwa kebahagiaan sejati bertemu orang yang dicintai adalah membuatnya selamanya dan tidak pernah melepaskannya.


Leave a Reply