Mengawali tahun ini, saya akan membahas tentang identitas diri dan bagaimana ketidaktahuan kita atas siapa diri kita dapat berbahaya dan menghasilkan dampak negatif yang tentu tidak kita inginkan dalam kehidupan ini.
Hutang terbesar manusia adalah tidak tahu siapa dirinya, tidak mengenal dirinya, dan tidak berperan dengan dirinya. Artinya ia berperan dengan sesuatu yang semu dan tidak jelas. Kita hanya sebatas perangkat lahiriah yang melakukan ritual dan mengandalkan hal yang berkaitan dengan pikiran dan intelektual belaka.
Dengan bahasa lain, kita tidak mempergunakan hati nurani dan kesejatian diri kita. Alhasil, yang muncul kemudian ialah manusia yang gampang mengeluh, marah, tersinggung, iri dengki, dendam, dan sebagainya. Ini adalah alarm-alarm yang muncul di luar kesejatian. Tak hanya itu, kehidupan manusia juga kemudian dipenuhi dengan rasa susah, kecewa, hingga menderita.
Sejatinya, jika manusia menggunakan perangkat kesejatian yang telah ada dalam dirinya maka fungsi dokter, psikolog, hingga psikiater tidak diperlukan lagi. Semakin modern, maka semakin bermasalah jiwa-jiwa manusia, bukan malah lebih bahagia. Hal ini tampak dari tingkat bunuh diri yang semakin banyak, orang stres yang terus bertambah tiap hari, atau penggunaan obat-obat, hingga kecanduan yang makin berat.
Adanya perangkat berupa handphone merupakan salah satu faktor munculnya kecanduan yang ada dalam diri manusia. Jika tidak menggunakannya secara sadar, maka kita kemungkinan juga akan terjerumus dalam kecanduan yang berefek negatif akibat penggunaan handphone yang berlebihan.
Saat manusia tidak menggunakan perangkat kesejatian, di situlah kemudian kita memakai perangkat cadangan yang termanifestasi dari ego maupun nafsu. Untuk itu, kita perlu mengenali siapa diri kita agar tidak menggunakan perangkat cadangan dalam kehidupan sehari-hari kita.
Kata kunci hidup ini adalah mengenal diri. Jika kita tidak mengenali diri, maka selamanya kita tidak akan mampu terhubung dengan Tuhan. Di situlah sumber penderitaan manusia sebenarnya. Sebelum kita terhubung dengan Tuhan, kita terlebih dahulu perlu mengenali siapa diri kita, karena perangkat kesadaran itu ada di dalam.
Kita tidak akan bisa membayar hutang diri kita, kecuali kita bisa mengenali jati diri kita. Ketika seseorang tidak mengenali dan menyadari siapa dirinya, maka tidak akan terbuka hubungannya dengan Tuhan. Bahkan dengan semesta pun kita tidak bisa terkoneksi.
Dampak lain yang juga terjadi jika manusia tidak mengenali dirinya ialah mereka akan masuk ke dalam sisi gelap kehidupan. Ini terjadi kepada semua kalangan, seperti sisi gelap pemuka agama, sisi gelap guru, sisi gelap dokter, termasuk sisi gelap ahli ibadah.
Kehidupan yang kita jalani saat ini sejatinya memberikan kesempatan bagi kita untuk mengenali diri, menyadari diri, memeluk diri, hingga mencintai diri kita. Dengan jalan itulah kita bisa menembus tirai-tirai takdir yang kita harapkan, yang mana hal itu tidak akan bisa kita tembus jika menggunakan perangkat yang tidak semestinya atau perangkat semu yang lahir dari ego dan nafsu diri.
Penggunaan perangkat semu itu akan membuat manusia merasa lelah, menderita, dan sejenisnya. Sedangkan, saat manusia menggunakan perangkat kesejatian maka yang terjadi ialah sebaliknya. Dalam perspektif kesadaran, yang utama ialah cinta dan welas asih yang kemudian melahirkan kebahagiaan tanpa batas, kecerdasan tanpa batas, hingga keberlimpahan tanpa batas.
Sebagai langkah praktis untuk mulai mengenali diri, setidaknya ada tiga kiat yang bisa dilakukan. Pertama, ialah bertabuat dan menyucikan diri. Bagi Anda yang beragama Islam, proses menyucikan diri dalam rangka pendakian menuju bulan Ramadhan sejatinya dimulai dari bulan Rajab saat ini.
Dalam level sederhana, praktik ini bisa dimulai dengan melakukan salat taubat dan salat sunnah wudu (syukrul wudu) secara bersamaan setiap kali kita selesai berwudu. Sementara itu, pada level lanjutan praktik yang lebih ketat dan serius ialah dengan mengekalkan wudu dengan cara menjaga wudu secara dawam dan berkelanjutan.
Proses ini bisa dilakukan dalam jangka waktu tertentu untuk merasakan dampaknya. Secara spiritual, manusia baru bisa menikmati "rasa" dari apa yang dilakukan secara kontinyu itu minimal selama 21 hari. Beberapa hal yang mungkin terjadi ialah kita akan menemukan jalan keluar dari masalah yang kita alami dan diberikan kemudahan atas apa yang kita lakukan sehari-hari.
Kedua, pembuka jalan untuk manusia bisa menziarahi ruang dalamnya ialah dengan sadar napas. Pembuka jalan spiritual, jalan kesadaran, bahkan jalan energi besar kesaktian itu lahir dari napas. Tradisi mana pun menggunakan napas sebagai instrumen dan sarana untuk mencapai hal-hal besar.
Orang dengan seribu jurus pun dalam konteks ini bisa dikalahkan dengan olah napas yang sadar. Ini bukanlah sulap atau sejenisnya, melainkan manifestasi dari mekanisme energi yang terjadi dan dihasilkan dari napas. Pengolahan napas ini bisa membawa manusia pada kesaktian, keajaiban, hingga makrifat kepada Tuhan.
Praktik sadar napas ini bisa dilakukan mulai dari pembiasaan sederhana selama 10 menit setiap harinya. Adapun waktu yang ideal jika kita ingin serius mengenal dan menziarahi ruang yang ada di dalam diri kita maka durasi yang dibutuhkan ialah 30 menit setiap harinya.
Ketiga, kiat yang dapat dilakukan sebagai jalan untuk mengenal diri ialah dengan melakukan riyadhah. Secara bahasa, riyadhah adalah istilah tasawuf yang berarti latihan spiritual atau penyucian diri untuk membersihkan jiwa dari hawa nafsu dan sifat tercela, serta mendekatkan diri kepada Tuhan melalui amalan seperti zikir, puasa, dan ibadah lainnya, yang sering disandingkan dengan perjuangan melawan hawa nafsu.
Tujuannya adalah mencapai ketenangan batin dan penyempurnaan akhlak dengan membiasakan diri pada hal baik dan meninggalkan yang buruk. Pembiasaan riyadhah ini dapat dilakukan selama 60 menit setiap harinya jika kita ingin serius mengenali diri, dan waktu terbaik untuk praktik ini ialah sebelum terbitnya matahari.
Persoalan utama manusia ialah secara tidak sadar mereka menzalimi diri sendiri setiap waktu. Alhasil, output yang terjadi ialah kesusahan dan penderitaan di segala aspek lini kehidupan. Sayangnya, kita justru berfokus kepada apa yang ada di luar diri kita.
Padahal, rumus penting dalam kehidupan ini ialah benahi apa yang di dalam, maka yang di luar akan datang dengan sendirinya. Sebagai contoh, dalam aspek finansial dan rezeki kita seringkali berusaha mati-matian mengandalkan ikhtiar lahir untuk meraih apa yang kita inginkan.
Definisi rezeki adalah segala bentuk kebaikan, baik yang bersifat lahir maupun batin di dunia ini. Level terendah rezeki ialah yang berupa materi seperti uang dan sebagainya. Sedangkan level lebih tinggi yang memberikan rasa aman dan mendatangkan kebaikan ialah seperti hidayah dan taufik yang diberikan oleh Tuhan terhadap manusia.
Ikhtiar lahir tersebut mungkin memberikan dampak, namun secara skala ia tidak menghasilkan efek yang besar dan berlipat. Sementara, jika kita mengiringinya dengan ikhtiar batin, kemudian disertai dengan memahami sifat dan pengertian rezeki, maka hasil yang akan kita dapatkan seringkali di luar perkiraan kita yang terbatas.
