Hutang Kehidupan: Karma dan Dosa Manusia

SENIN, 14 NOVEMBER, 2022

Hutang Kehidupan: Karma dan Dosa Manusia

Disadari atau tidak, setiap diri memiliki hutang terhadap kehidupan yang kita jalani sekarang. Ada yang menyebutnya sebagai karma. Dalam bahasa Islam, ia senada dengan kata kaffarah yang bisa diartikan sebagai penebus kesalahan.

Perlu dipahami, ada perbedaan mendasar antara karma dengan dosa. Karma adalah hukum perbuatan atau hukum tindakan yang berhubungan dengan alam semesta dan makhluk lainnya. Sementara dosa seringkali berhubungan dengan Tuhan.

Jika dosa bisa diselesaikan dengan kita memperbaiki terus-menerus secara kontinyu hubungan kita dengan Tuhan, lain halnya dengan karma. Ia perlu dituntaskan dengan memahami akar masalahnya, lalu kemudian membayar hutang-hutang kehidupan tersebut.

Satu perbedaan lain yang cukup mencolok antara dosa dan karma ialah perihal keterwarisannya. Dosa dalam konteks ini bersifat pribadi dan tidak bisa diwariskan, sedangkan karma bersifat lintas generasi dan tentu ia bisa diwariskan dari satu keturunan ke keturunan selanjutnya.

Pada titik ini, kita perlu menyadari bahwa setiap diri kita memiliki hutang atau karma terhadap kehidupan. Hal ini dikarenakan kita tidak tahu perilaku apa yang telah dilakukan oleh orang tua dan leluhur kita, sehingga mungkin itu berpengaruh terhadap bagaimana kehidupan yang kita terima sekarang.

Katakanlah, orang tua kita dulu pernah berbuat sesuatu yang buruk semasa hidupnya. Terhadap hal ini, akan ada hukuman yang diterima atas perilaku yang dilakukan oleh orang tua tersebut. Tak menutup kemungkinan hukuman itu akan ditanggung sang anak, atau mungkin generasi-generasi penerusnya.

Hukum Karma

Oleh karena itu, sekitar 90 persen manusia yang hidup hari ini mengalami hambatan atau sumbatan dalam hidupnya (entah kurang bahagia, rezeki yang tidak berkah, dan lain sebagainya) karena belum tuntas dalam bab mengenai karma kehidupan ini.

Dalam bahasa yang lebih universal, apa karma kehidupan ini juga bisa disebut sebagai hukum tabur tuai. Apa yang kita tanam hari ini, pastilah akan tiba masa tuainya. Hukum tabur tuai ini selaras dengan pilihan-pilihan perbuatan kita, apakah berbuat baik atau berbuat buruk.

Lantas, bagaimana jika kita ingin menuntaskan dan membereskan masalah karma kehidupan ini? Sebagaimana apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw bahwa kita perlu menyerahkan segala sesuatu kepada ahlinya. Pun halnya dalam pembahasan tentang karma kehidupan.

Di antara milyaran manusia yang hidup hari ini, terdapat orang-orang pilihan Tuhan yang diberi anugerah untuk menuntaskan masalah-masalah karma kehidupan banyak orang. Karena mereka pilihan, tentu jumlahnya tidak terlalu banyak. Tugas kita sebagai orang awam ialah datang kepada makhluk-makhluk pilihan tersebut.

Biasanya, orang-orang yang berhati bersih itulah mereka yang diberi amanah untuk menuntaskan dan membersihkan permasalahan karma kehidupan yang menjadi problem akut mayoritas umat manusia.

Tidak sedikit kendala dan gangguan yang diterima oleh orang-orang pilihan tersebut saat ingin menuntaskan hutang-hutang kehidupan lintas generasi tersebut. Tak semata bersifat fisik, serangan dan ancamannya pun tidak jarang diarahkan kepada keluarga dan lingkar terdekatnya.

Meskipun demikian, kunci utamanya ialah terletak dalam tauhid yang kokoh dan mengakar saat mendapat ancaman gaib dari makhluk-makhluk immateri untuk tidak ikut campur dalam urusan karma kehidupan seseorang.

Memutus atau membereskan karma kehidupan lintas generasi yang diwariskan itu harus ada sesuatu yang menjadi alat tukar atau dibayarkan. Dalam hal ini, hanya orang terpilih yang bisa menuntaskan problem tersebut, dengan cara dan metode yang tentu beragam dan kasuistik.

Hukum karma ini pun juga tidak lepas dari orang-orang suci, seperti nabi, wali, dan lain sebagainya. Bedanya, mereka memiliki cara tersendiri untuk menuntaskan hutang-hutang kehidupan itu secara mandiri, bahkan sebelum dituntut oleh kehidupan.

Di samping datang meminta bantuan kepada orang pilihan untuk menuntaskan karma kehidupan yang kita bawa, ada cara lain yang mungkin sering tidak kita sadari untuk membayar atau menebus hutang kehidupan tersebut.

Sebagai contoh, Tuhan bisa saja menyelipkan metode penebusan itu melalui ujian yang Dia berikan kepada kita. Oleh karenanya, saat mendapat ujian, sebaiknya kita terima saja dengan lapang dada. Bisa jadi itu pembayaran akan karma kehidupan kita.

Pun halnya ketika kita mendapatkan penghinaan dari orang lain. Saat kita dihina atau diolok, sebenarnya saat itu terkandung pembayaran yang mahal sekali atas hutang kehidupan yang kita miliki.

Karma dan Warisan Genetik

Seringkali memang, banyak hutang-hutang kehidupan kita yang lunas karena dipaksa oleh mekanisme yang diberikan oleh Tuhan dan alam semesta kepada manusia, seperti rasa sakit, penderitaan, dan sebagainya. Tentu saja kesakitan yang diterima dan diikhlaskan, bukan kesakitan yang dikeluhkan.

Semakin kita merasa sakit, menderita, tidak enak, sejatinya bayaran atas hutang kehidupan yang ditebus bersifat semakin mahal, yang mana hal itu tidak bisa dibayar oleh amal ibadah sehebat apa pun.

Tak lupa, dengan menjadi pribadi yang welas asih, pemaaf, dan bijaksana, secara tidak langsung itu akan berdampak baik untuk kehidupan kita dan anak keturunan kita, karena tebusan untuk sifat-sifat baik nan luhur tersebut mahal sekali bayarannya.


Leave a Reply