Belajar dari Sunan Muria: Praktik Hidup Vegetarian hingga Laku Tapa Ngeli

KAMIS, 20 JULI, 2023

Belajar dari Sunan Muria: Praktik Hidup Vegetarian hingga Laku Tapa Ngeli

Mengawali pembukaan tahun baru dalam penanggalan kalender Hijriah, Panca Olah Institute melanjutkan agenda Suluh Nusantara Jilid II yang bertemakan Raja-Wali. Dalam acara yang dihelat pada Rabu, 19 Juli 2023 tersebut, tokoh yang menjadi sentral pembahasan ialah Sunan Muria, seorang figur wali songo termuda pada masanya.

Sebelum memasuki sesi pembahasan, peserta diajak untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya versi 3 Stanza gubahan Wage Rudolf Supratman secara bersama-sama sebagai upaya untuk membangkitkan semangat dan jiwa nasionalisme segenap orang yang hadir. Ritual ini terasa penting, karena alunan musik sendiri berpengaruh terhadap kondisi psikologis dan sistem kepercayaan dalam diri seseorang.

Ahmad Bagus Kazhimi selaku Direktur Panca Olah Institute dalam sambutannya mengemukakan bahwa semangat utama dari program Suluh Nusantara yang memasuki tahun kedua penyelenggaraannya adalah untuk menggali serta menghidupkan khazanah pemikiran, gagasan, serta teladan dari para tokoh wali songo yang menyebarkan ajaran kesadaran dan budaya peradaban untuk kehidupan yang lebih baik hari ini dan masa depan.

Dr. Ahmad Tajuddin Arafat, Dosen UIN Walisongo Semarang sekaligus Anggota Tim Pengembangan Walisongo Center, hadir sebagai narasumber kunci dan utama untuk mendiskusikan Sunan Muria beserta warisan pemikiran dan inspirasi hidup yang dia berikan.

Pamflet Suluh Nusantara Sunan Muria

Di awal pemaparannya, Tajuddin memberikan gambaran bagaimana tipologi wilayah di mana Sunan Muria lahir dan tumbuh dewasa, yakni Kudus Timur (Wetan) dan Kudus Barat (Kulon). Secara umum, penduduk Kudus Barat terdiri dari kaum santri dan tulen dan pengusaha. Sedangkan, masyarakat Kudus Timur meskipun terdapat banyak santri, namun karakteristik penduduknya lebih beragam dan heterogen yang diwarnai dengan orang Kristen, orang Cina, serta kaum abangan.

Aspek ini kelak mempengaruhi gaya dakwah Sunan Muria yang cenderung memilih untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan seperti menanam, berdagang, membuat perahu, hingga menangkap ikan kepada masyarakat wilayah Kudus Wetan pada umumnya, serta penghuni lereng Gunung Muria pada khususnya.

Dari segi riwayat dan sanad, terdapat beberapa pendapat mengenai orang tua dari Sunan Muria. Pendapat pertama menyatakan bahwa pria yang bernama lengkap Raden Umar Said itu merupakan putra dari Sunan Kalijaga dengan Dewi Sarah. Adapun pendapat kedua melansir bahwa Sunan Muria adalah anak dari Sunan Ngudung dan Dewi Sarifah.

Manaqib Sunan Muria

Hal menarik yang ditemukan oleh Tajuddin ketika berdiskusi dengan penunggu makam Sunan Muria hari ini adalah kecondongannya untuk lebih berpijak pada pendapat yang kedua. Bukan riwayat pertama yang tergolong jauh lebih masyhur dalam pemahaman khalayak umum. Julukan yang disematkan kepada wali yang disemayamkan di lereng Gunung Muria sendiri beragam, di antaranya Sunan Muria, Sunan Muryapadha, dan Sunan Wurya.

Masa hidup Sunan Muria sendiri terbentang sejak masa Kesultanan Demak hingga Kesultanan Pajang. Dikisahkan bahwa Sunan Muria pada masanya lebih memilih menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitar. "Literasi penduduk Jawa pada masa wali songo dulu terbilang kurang, sehingga para wali yang lebih memilih untuk menggunakan bahasa komunikasi yang bisa dipahami secara mudah, baik secara lisan maupun tertulis," ujar Tajuddin yang pernah menimba ilmu di Pesantren Yanbu'ul Qur'an Kudus tersebut.

Ajaran yang menjadi teladan penting dari Sunan Muria disebut oleh Tajuddin sebagai Suluk Sunan Muria. Ia terdiri dari empat komponen utama, yakni pambukaning tata malige betal mukaram, amalan wirid, laku tapa ngeli, dan pagerono omahmu kanthi mangkok. Keempat hal ini perlu disinergikan untuk hidup yang seimbang.

Dr. Ahmad Tajuddin Arafat

"Pambukaning tata malige betal mukaram itu ya konsep futuh kalau dalam tasawuf. Titik tekan utamanya terletak pada membuka hati. Karena rumah Allah itu ada di dalam hati. Agar kita bisa membuka kerajaan hati yang di dalamnya bersemayam Tuhan itu diperlukan tirakat tidak boleh makan hati, tidak boleh makan jeroan, tidak boleh menyebut angan-angan, dan tidak boleh menyebut harapan semu," tutur Pembina Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang itu.

Secara tersirat, hal ini menyiratkan ajaran untuk hidup vegetarian dengan menghindari konsumsi makanan yang bernyawa. Praktik menjaga pola makan ini tentu menjadi hal yang penting dilakukan bagi para pejalan menuju Tuhan, karena kesucian lahir dan batin memiliki pengaruh dalam praktik riyadhah dan mujahadah yang dilakukan.

Para sufi terdahulu yang dibenahi dan dihantam dulu ialah urusan dalam diri (hati) terlebih dahulu, yang nantinya hal ini akan memberikan dampak pada aspek fisik luarnya (tubuh). Paradigma ini berbanding terbalik dengan fenomena diet masa kini yang cenderung berfokus untuk melihat aspek luarnya saja, padahal nafsu dan hasrat di balik praktik diet itu masih terbilang tinggi.

Serat Lokajaya

Selanjutnya, hal yang juga tak kalah penting ditekankan oleh Sunan Muria adalah merutinkan amalan berupa wirid dengan bacaan tertentu. Dalam kaitannya dengan hal ini, Tajuddin menyoroti potret umat Islam hari ini yang kuat literasinya, namun lemah dalam aspek olah rasa dan olah hati. Mendawamkan wirid oleh karenanya menjadi ritual penting untuk menajamkan hati serta intuisi yang ada dalam diri manusia.

Tak sampai di situ, Sunan Muria juga dikenal dengan konsep laku tapa ngeli yang ia lakukan dalam hidupnya. Secara bahasa dan istilah, tapa ngeli bisa diartikan ke dalam beberapa hal. Namun dalam kaitannya dengan praktik hidup Sunan Muria, tapa ngeli bermakna pengabdian diri kepada masyarakat luas dengan mengajarkan keterampilan atau keahlian tertentu untuk menunjang level kehidupan seseorang.

"Wali yang paling keren itu wali yang tidak hanya selesai dengan dirinya sendiri, tapi dia mampu menyeleasikan masalah orang lain dengan dirinya sendiri. Bagaimana kita menyebur ke sungai, tapi tidak hanyut di dalamnya," ungkap Tajuddin yang juga mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU Kota Semarang.

Tapa Ngeli

Hal ini selaras dengan konsep empat perjalanan suci dalam diri yang disebut dengan al-hikmah al-muta'aliyah fi asfar al-arba'ah. Bahwa derajat perjalanan tertinggi justru bukan dengan menikmati keintiman hubungan dengan Tuhan atau pengalaman spiritual yang kita rasakan, melainkan dengan turun gunung untuk ikut berkontribusi dalam mencari solusi dari permasalahan sosial kemasyarakatan yang ada di lingkungan kita.

Komponen terakhir dari ajaran Suluk Sunan Muria adalah pagerono omahmu kanthi mangkok. Ajaran luhur ini secara sederhana dapat dimaknai sebagai upaya melindungi keselamatan dan kenyamanan keluarga dengan senantiasa memberikan rasa aman dan kasih sayang kepada siapa saja yang berada di sekitar kita. Sebagaimana kita lihat di atas, bahwa Sunan Muria telah mengajarkan begitu banyak hal yang berharga.

Kontekstualisasi akan cara pandang dan laku kehidupan yang telah diwedar oleh Sunan Muria ini amat terasa penting untuk kembali dibumikan hari ini. Era di mana menurut perhitungan titi mangsa masyarakat Jawa, sudah seharusnya kesadaran akan budaya luhur peradaban terdahulu mulai dibuka kembali untuk merajut masa depan yang gemah ripah loh jinawi.

Foto Bersama Suluh Nusantara Sunan Muria


Leave a Reply